Pembatasan Usia Kendaraan Bermotor – Pro, Kontra, dan Solusi yang Bisa Digunakan

Kualitas udara di DKI Jakarta terus mengalami penurunan. Hal ini semakin banyak dibincangkan setelah Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan udara terkotor sedunia beberapa waktu lalu. Hal ini menyebabkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 66 tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.

Salah satu poin penting dari instruksi tersebut adalah tentang pembatasan usia kendaraan bermotor. Rencananya, usia kendaraan bermotor akan dibatasi hingga 10 tahun saja pada tahun 2025 mendatang. Hal ini tentu menimbulkan banyak pro dan kontra di masyarakat umum maupun para produsen kendaraan. Banyak yang menyetujui wacana tersebut, namun tidak sedikit pula yang menolak.

Kali ini kami akan membahas mengapa wacana tersebut harus diimplementasikan, mengapa jangan, dan solusi apa yang harus diambil pemerintah untuk memperbaiki kualitas udara ibukota.

Mengapa Harus?

  • Mobil Tua Cenderung Mengeluarkan Emisi Lebih Tinggi
3362186522
Source: OtoMania

Perkembangan teknologi membuat standar emisi kendaraan menjadi lebih tinggi, tidak terkecuali di Indonesia. Meskipun masih tertinggal dengan negara lain, namun paling tidak standar emisi membuat mobil baru menghasilkan emisi lebih rendah dibanding kebanyakan mobil tua. Misalnya sebuah Toyota Kijang tanpa standar emisi tentu emisi yang dikeluarkan akan lebih besar dibanding sebuah Toyota Calya yang berstandar emisi Euro 4.

  • Mobil Tua Lebih Tidak Aman

Tak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi menciptakan mobil yang jauh lebih aman dibandingkan dengan mobil sebelum-sebelumnya. Ambil contoh lagi sebuah Toyota Kijang dan Toyota Calya. Memang sekilas Kijang terlihat lebih aman dengan plat bodi yang tebal dan bemper berbahan besi, namun saat terjadi kecelakaan, penumpang Calya akan lebih terproteksi dengan beragam fitur keselamatan seperti airbag, safety cell, seatbelt dan lain-lain.

Mengapa Jangan?

  • Tidak Semua Mobil Baru “Bersih”
white_smoke_exhaust
Source: CarFromJapan

Meskipun memang standar emisi membuat mobil baru lebih bersih dibandingkan mobil-mobil tua, namun standar emisi di Indonesia masih rendah. Belum lagi regulasi yang tidak mendukung kendaraan energi terbarukan seperti listrik. Hal ini membuat mobil baru memiliki emisi yang tidak terlalu baik. Ambil contoh sebuah LCGC Datsun GO memiliki kadar emisi CO yang cukup tinggi di angka 120 g/km.

  • Pengguna Mobil Tua Akan Beralih Ke Mobil Baru
0000467100
Source: Otosia

Dengan dilarangnya penggunaan mobil tua, pengguna mobil-mobil tua akan mau tidak mau beralih ke mobil baru. Hal ini mungkin terlihat sebagai kelebihan, namun sebenarnya ini merupakan sebuah kekurangan besar. Dengan mudahnya kredit kepemilikan mobil dengan cicilan rendah, populasi mobil baru pun otomatis akan melonjak. Dengan jumlah kendaraan yang semakin banyak, emisi yang dihaslikan semakin banyak sehingga tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Apa yang Harus Dilakukan?

Menurut kami, yang harusnya dilakukan oleh pemerintah bukanlah membatasi usia kendaraan tersebut, namun membatasi kendaraan dengan emisi besar. Perlu diadakan Uji KIR untuk mobil penumpang setiap tahunnya agar tahu emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan itu setiap tahunnya. Apabila emisi yang dikeluarkan diatas ambang batas, maka pajak kendaraan itu akan bertambah.

Pemerintah pun juga bisa merevisi pajak dengan memberi insentif bagi kendaraan ramah lingkungan seperti hybrid dan elektrik, sehingga pembeli akan melirik kendaraan tersebut.

Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan adalah mempersulit pembelian mobil baru sehingga pertumbuhan kendaraan dapat dikontrol, dan juga mensosialisasikan penggunaan transportasi umum yang sudah cukup memadai di Jakarta, seperti MRT, TransJakarta dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Kami cukup setuju dengan wacana mengurangi emisi oleh pemerintah DKI Jakarta. Namun kami rasa cara pembatasan usia kendaraan kurang tepat. Kami harap sebelum wacana itu benar diaplikasikan pada 2025 mendatang, pemerintah merevisi kembali wacana tersebut.

Nah, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian setuju dengan wacana ini? Atau punya ide lain untuk mengatasi polusi udara di Jakarta? Sampaikan komentar kalian di bawah!