Resmi, Sistem PPnBM Baru Ditandatangani!

Berita baik bagi anda pecinta mobil listrik dan hybrid! Mulai 8 Agustus lalu, sistem Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) kini mengadopsi sistem carbon tax, sehingga pajak untuk menjual mobil kini dihitung berdasarkan ukuran mesin (cc) dan juga hasil emisi karbon dioksida (CO2).

Hal itu ditandai dengan penandatanganan pada berkas PerPres yang dilakukan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo. Meski sudah ditandatangani sekarang, peraturan tersebut baru akan dilaksanakan 2 tahun lagi, yakni tahun 2021.

Ini akan berdampak sangat besar pada road tax dan juga retail price kendaraan bermotor, baik baru maupun bekas. Dan pastinya, ini akan berdampak besar kepada mobil hybrid, plug-in hybrid, dan mobil listrik dimana Presiden Joko Widodo ingin pasar dan industri mobil listrik (electric vehicle) berkembang di Indonesia.

“Insentifnya apabila itu full elektrik, atau fuel cell yang emisinya 0 PPnBm-nya 0. Jadi itu berbasis kepada emisi yang dikeluarkan. Tapi khusus untuk kendaraan-kendaraan yang kategori luxury car (mobil mewah) di atas 4.000 (cc), itu kita beri PPnBm tinggi,” Ujar Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia.

Insentif pajak itu akan diatur dalam Peraturan Pemerintah baru yang akan dikeluarkan sebagai hasil dari revisi PP No.41/2013 tentang tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Peraturan baru tersebut direncana akan berlaku pada 2021, dimana program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) akan benar-benar diberlakukan berkat sistem PPnBM yang baru ini, dan juga LCGC 2.0.

Bagaimana tangganmu mengenai peraturan PPnBM terbaru ini? Apakah akan menguntungkan pemerintah, konsumen, produsen, atau semua pihak tersebut? Berikan komentar anda dibawah sekarang juga!